Titipan Cinta (3)

Episode 3


Karya: Helmy Khan



Tiba-tiba keadaan mencekam, semua yang ada didalam ruangan cemas melihat keadaan farel yang kini kejang-kejang menahan rasa sakit yang sangat amat. Baru saja ia siuman beberapa menit keadaan berbalik, wajah farel semakin pucat dan bibirnya agak kecokelatan.
“Dokter-dokter” teriak kiki dari ruangan.
Dokter langsung memeriksa keadaan farel, ia tak menyangka semua seperti ini. Bagaimana mungkin semua bisa seperti ini padahal operasi berjalan lancar tiada hambatan.
“Bagaimana keadaan putra saya dok” tanya kia Ahmad.
“Jawab dokter, jawab…” ucap nyai Umi kulsum dengan nada tinggi
“Putra kia sudah tiada, sudah kembali kepada yang maha pencipta” jawab dokter dengan  nada  lirih.
Semua yang ada dalam ruang menangis tiada tahan menahan tumpahan air mata. Tidak menyangka farel pergi secepat ini. Keadaan semakin gaduh diperparah lagi dengan nyai umi kulsum yang tiba-tiba pingsan tergeletak di atas lantai. Isak tangis nyai wardah dan zulfa pecah sekan-akan ia tidak percaya dengan semua yang terjadi pada calon menantunya. Begitupun dengan zulfa dengan air mata yang terus membasahi keningnya ia terbelalak dengan kenyataan yang terjadi.
Awan gelap nampak berjejer diambang langit-langit gedung pesantren yang menjulang tinggi diantara sudut-sudut rumah kia ahmad yang berselimut duka, begitu juga dengan keluarga kia hasan yang turut prihatin atas apa yang terjadi pada calon menantunya. Santri-santri dengan khusuknya membaca ayat-ayat suci al-quran dengan air mata yang tetap mengucur tapi mereka tak mengubrisnya. Lantunan kalimat tahmid mengiringi langkah jutaan kaki yang menapak di atas tanah pesantren mengiringi sebuah benda yang teramat setia kelak mengantar jutaan umat ke liang lahat pemisah antara anak, orang tua, kerabat, dunia dan akhirat.
Seratus hari sudah sebuah keluarga yang berada di dalam laingkungan pesantren terpisah dengan farel, putra sulung dari dua bersaudara yang di mimpi-mimpikan untuk meneruskan pesantren kini telah sirna tiada tara. Ibunda yang menjadi saksi anak-anaknya beranjak usia dengan penuh kasih sayangnya membesarkan buah hatinya kini merasa sangat perih menerima sebuah kenyataan pahit bagai menelan empedu berlapis madu. Nyai umi kulsum seorang ibunda yang sangat menyangi farel membuka lembaran hari-harinya dengan terus-menerus memperhatikan kamar farel tempat ia mengantarkannya mengenal indahnya dunia. Sesekali meraba-raba kain yang tersimpan rapi dalam lemari kayu jati yang kini terpisah dari raganya.
Rak lemari yang tersusun tiga tingkat tanpa sengaja nyai umi kulsum menemukan sebuah kotak kecil yang masih kelihatan baru. Dengan tanda tanya yang terus menguntitnya ia membuka kotak kecil yang ada di dalam lemari farel. Air mata tak terasa menetes deras bagai hujan mengguyur tanah gersang di siang bolong. Sepucuk surat yang tertulis di kertas putih membuat nyai umi kulsum semakin jadi dengan isak tangisnya.

                        Dear…
Muhammad Farel Alawi,

Assalamualaikum wr-wb
Abah, bunda dan juga mas kiki
Maafkan farel yang selama ini mengusik ketenangan kalian semua
Farel sadar bahwa selama ini farel sudah banyak membuat kesalahan
Lebih-lebih kepada kakakku mas kiki.
Abah bunda…
Maafkan farel karena farel merasa tidak akan lama lagi
Untuk mengemban amanat abah dan bunda untuk memegang kendali
Pesantren karena sebentar lagi farel akan
Pergi jauh untuk selamanya!
Dalam lembaran sarat ini farel sengaja menulis semua ini.
Namun tiada maksud lain, farel memohon
Dengan kerendahan hati yang sangat dalam kepada abah, dan bunda
Untuk mengikatkan kembali tali yang sempat di ikatkan kepada zulfa gadis yang
Teramat farel cintai.
Farel merasa tidak akan lama lagi menghirup segarnya udara karena sebentar lagi
Farel akan pergi kesebuah tempat yang amat jauh.
Dalam kotak ini ada surban farel pemberian abah waktu dari tanah suci dulu,
Hadiahkan kepada mas kiki untuk di jadikan mas kawin pernikahannya bersama zulfa.
Dan sampaikan kepada mas kiki dan zulfa, 
Karena farel, mas kiki dan zulfa gagal mengikat ikatan pertunangan dulu 
Dan menggantikannya untuk farel
Farel tiada bermaksud untuk menikung mas kiki dari belakang.
Mungkin hanya ini pemberian farel dan permintaan farel yang terakhir kalinya
Ayah bunda maafkan farel yang kesekian kalinya!!!

Wassalam…

Muhammad Farel Alawi
11-06-2017
Nyai Umi Kulsum semakin larut dalam isak tangisnya.

Bersambung!

Komentar