Episode 2
1 Tahun Kemudian…
Wajah yang dahulu bersih dan berseri
kini tidak lagi terpampang lagi di raut wajah Farel, wajah pucat dan kusut
menjadi pengganti bias keasrian senyumnya. Kini ia sering sakit-sakitan
semenjak ia mengetahui bahwa Kiki melespakan zulfa untuknya hanya untuk
membahagiakan dirinya seorang.
“Sungguh tak kusangka, ternyata kakaku sendiri
rela melepaskan kebahagiaannya untuk diriku” gumam Farel dalam diam.
“Lalu, apalah daya diriku ini
mengapa aku sebelumnya tidak habis fikir tentang semua ini. Aku tak bermaksud
menikungmu kak” gumam Farel.
Sebenarnya, dulu Kiki direncanakan
akan ditunangkan dengan zulfa putri kia Hasan. Dan kedua orang tua Zulfa
menyetujui semua usulan kia Ahmad. Waktu dan tanggal sudah ditentukan tinggal
mempersiapkan segala kebutuhan dihari perayaanya. Namun berselang beberapa
waktu Kiki menolak semua yang telah di sepakati bersama. Dengan singkat dan
padat ia menceritakan yang sebenarnya, bahwa adiknya Muhammad Farel alawi
sangat mencintai dan menyayangi zulfa. Dengan kerendahan hati dan hati yang
sedikit terpukul ia memohon kepada abahnya dan kia Hasan untuk melanjutkan rencana
itu tapi digantikan oleh farel dan zulfa. Mengetahui semua yang sebenarnya terjadi hal itu membuat farel menyesal, tidak
semestinya ia merampas kebahagiaan kakaknya sendiri.
“Tolong… tolong…” suara gaduh
terdengar dari lantai atas pesantern tempat farel menghabiskan waktu luangnya.
“ada apa” tanya salah satu seorang
santri yang menghampiri.
“ini, mas farel pingsan”
“kalau begitu ayo kita bawah saja
ke dalhem pengasuh”.
Kiki yang mengetahui itu di depan
halaman pesantren langsung menghampiri farel dan ikut membawah farel ke dalhem.
“ada apa ini kok rame-rame” tanya
kia Ahmad.
“Ini kia, mas Farel pingsan” jawab
salah satu santri.
“Emangnya ada apa dengan Farel, apa
sebelumnya dia sakit”
“Saya kurang tahu juga kia, tadi
mas Farel ditemuka sudah tergeletak di lantai atas”
Mengetahui itu ibunda farel nyi Umi
kulsum langsung menelepon dokter, dengan air mata yang terus mengalir ia terus
mengelus kepala farel dengan penuh kasih sayangnya.
“Ya Allah, kamu kenapa si nak, kamu
kok pingsan seperti ini” ucap nyai Umi sambil terus mengelus kepala farel.
“Apak kamu sakit, lalu kenapa tidak
cerita kepada umi atau abahmu” Ucapnya lagi.
“sudahlah umi mungkin ini sudah
kehendak Allah” jawab kia Ahmad disampingnya.
Hasil pemeriksaan dokter sangat
mengejutkan, dan terasa sangat pilu harus diterima oleh nyai umi kulsum,
bagaimana tidak putra sulungnya kini mengedap penyakit yang sangat ganas.
“Bagaimana dokter, apa yang terjadi
kepada putra saya” tanya kia Ahmad.
“begini kia,” dokter menghentikan
jawabannya beberapa saat.
“Emangnya apa yang dialami putra
saya dok, mengapa dokter diam saja, ayo dok katakana saja yang sebenarnya”
sahut nyai umi kulsum.
“Begini kia, dengan rasa berat hati
saya mengucapkan bahwa putra kiai mngedap penyakit kanker stadium tiga dan
gagal ginjal. Dan secepatnya harus dioperasi namun peluang untuk sembuh total
sangat sedikit” jawab dokter dengan wajah tertunduk.
Mendengar jawaban dokter nyai Umi
kulsum tersipuh rapuh di lantai, dengan air mata yang sangat deras ia terus
menangis menerima semua kenyataan yang dialami oleh putra sulungnya. Begitupun
dengan kia Ahmad dan Kiki seakan-akan mereka tidak percaya dengan apa yang
diucapaka oleh dokter barusan.
Sudah dua hari Farel terbaring
diatas ranjang keadaannya semakin melemah, hari ini ia akan di bawah ke rumah
sakit untuk menjalani operasi sesuai perintah dokter dua hari yang lalu. Nyai
Umi Kulsum yang berada disampingnya terus saja mengelus kepala farel dengan air
mata yang tak terbendung namun hatinya terus membaca doa untuk putranya yang
terbaring rapu diatas ranjang.
Berselang beberapa jam mobil yang
membawa farel kerumah sakit sudah sampai. Diruang UGD sebelum menuju ruang
operasi kia Ahmad dan kelurganya menghampiri farel yang sebentar lagi akan
menjalani operasi. Nyai Umi kulsum terus saja menangis seraya memandang
dalam-dalam farel berharap putranya sembuh seperti sedia kala.
“Umi, sudahlah jangan menangis
Farel tidak apa-apa kok, kan Cuma mau dioperasi sebentar lagi selesai kok” kata
Farel, berusaha menenangkan wanita yang selama ini membesarkan dan selalu
menemaninya.
Kiki menghindar seakan-akan tidak
kuat mendengar ucapan adiknya yang terbaring rapu. Ia sama sekali tidak
menyangka akan sepereti ini,
“Ya Allah, mengapa cobaan ini kau
berikan kepada adik ku, mengapa tidak aku saja, aku tidak sanggup menyaksikan
semua ini” ucap kiki.
Kini farel sudah masuk ruang
operasi, sekarang ia terpisah dari orang-orang yang dicintainya. Dirunag tunggu
orang-orang yang selalu berada disamping farel terus mengucapkan dzikir dan
doa, tidak lain dengan nyai Umi kulsum seorang ibunda yang sangat menyayangi
anaknya juga melakukan hal yang sama, bagaimana tidak daging yang berada di
rahimnya selama kurang lebih Sembilan bulan kini terbaring lemah dan berusaha
melawan penyakit yang sekarang ia alami dan berjaung untuk tetap hidup.
Satu jam sudah farel berada dalam
ruang operasi namun pintu tetap tertutup rapi. Rasa gelisah dan cemas
menyelimuti semua yang ada di ruang tunggu. Dari balik tembok yang tak begitu
besar namun sangat nyaman untuk dijadikan tempat bersandar nampak kia hasan datang sekeluarga menghampiri semua yang ada di ruang tunggu.
Trek…!!!
suara pintu terbuka semua yang ada diruang
tunggu tertuju kepada dokter yang keluar dari ruang operasi.
“Bagaimana dok, apa semuanya
berjalan lancar” tanya kia Ahmad.
“Alhamdulillah semuanya berjalan
dengan lancar" jawab dokter.
Alhamdulillah… ucap orang-orang
yang ada diruang tunggu. Nyai Umi Kulsum sedikit berseri mendengar apa yang di
ucapkan oleh dokter, itu tertanda yang baik untuk keadaan farel gumam nyai umi
kulsum.
Satu persatu keluarga farel masuk
melihat keadaan farel begitupun dengan kia Hasan, nyai wardah dan juga zulfa.
Sekarang farel sudah sadar melihat orang-orang yang selalu mendampinginya
berada di sisinya begitupun dengan calon mertuanya. Namun hati farel sedikit
sungkan melihat zulfa yang juga berada di sampingnya, karena ia tahu bahwa ia
adalah orang yang merebut kebahagiaanya dari kakaknya. Zulfa menatap farel
dengan amat tajam seakan-akan ia merasa sangat bahagia karena tunangannya sudah
baikan. Disatu titik zulfa sedikit merasa tidak enak kepada kiki, karenanya
sekarang ia bisa menjalin ikatan tunangan besama farel. Zulfa bertanya-tanya
pada dirinya sendiri apakah kiki masih menyimpan perasaan dan merasakan hal
yang sama seperti apa yang ia alami saat ini.
“Gimana keadaan kamu nak” tanya kia
Ahmad memecah keheningan.
“Alhamdulillah, saya merasa semakin
baik” jawab farel lirih.
“Syukurlah kalau begitu nak” sahut
kia Hasan bersamaan dengan nyai umi kulsum.
Hati nyai umi kulsum terasa
sangat legah karena putranya sudah berhasil melawan masa kritisnya. Begitupun
dengan kiki seorang kakak yang sangat mencintai adiknya yang rela mengorbankan
semua yang ia miliki untuk kebahagiaan farel tak terkecuali dengan memeberikan
zulfa meski ia sangat mencintainya. Ia tak pernah mementingkan tentang
kehagiaan dirinya sendiri yang terpenting farel dan keluarganya dalam keadaan
bahagia selalu.Bersambung!

Komentar
Posting Komentar