Titipan Cinta (1)

Episode 1
Karya: Helmy Khan


Taburan mas, sebuah prakata yang sangat elok untuk sebutan padi yang telah menguning terjajar rapi dan  seraya ikut sepoi angin di pagi buta. Kicauan burung begitu melengking mendobrak keheningan, menari-nari di bawah atap langit biru menemani langkah seorang nenek renta yang tetap tegar menjajakan gorengannya. Di luar pagar sana knalpot motor berderu mengurai kabut mengantar para pedagang keladang nafkah dikeramaian masyarakat. Sorak anak-anak SD bercampur tawa dan bahagia mengayuh sepeda ontelnya dengan baground remang-remang sinar matahari di ufuk timur bak pertujukan wayang kulit dari ujung barat.
Sebelum sinar matahari mengecup kening bumi dan menyeruput butiran embun dipucuk-pucuk rerumputan, santri-santri di balik tembok yang mencakar langit telah berkerumun mengerjakan berbagai agenda pesantren. Tiada ubuhnya bagaikan debur ombak laut yang setiap waktu terus mengguyur pantai dan tebing. Begitulah suasana para santri dibalik penjara suci.
Pemandangan yang tak asing lagi bagi santri yang bermukim dengan wahana pengajian kitab kuning, hafalan, dan bersekolah begitu terasa nikmat mereka geluti sepanjang harinya. Seragam putih dan sarung dengan kopiah yang melingkar dikepala adalah hal wajib yang harus di pakai oleh sekian banyak santri, dengan beralas kaki sandal jepit atau bakiak, mereka hinggap kesana kemari menggendong kitab-kitab karya imam ghazali sambil lalu menghafal nadhaman imriti, al-fiah dan lain sebagainya.
Di sore hari, entah saat selesai sholat ashar atau setelah membimbing para santri di kelas acap kali farel menghabiskan waktu luangnya untuk memandang pemandangan yang menghampar luas disisi gedung pesantren. Panorama matahari menjadi pemandangan terindah dari atap gedung pesantern dengan kombinasi awan kuning agak kemerahan seraya menutup matahari yang telah  menemani bumi. Sementara dibawah sana santri-santri sudah melebur dengan bola kaki berlarian mengejar bola untuk di masukkan ke gawang lawan.
“Rel, lagi ngapain disini sendirian” tanya Kiki dari ujung tangga sebelah utara.
“enggak kok cuman memandang pemandangan saja” ucap Farel sambil menoleh kepada Kiki.
Keadaan nampak monoton beberapa saat, kedua insan yang berada di atas gedung masih meraba-raba sepatah kata untuk diperbincangkan untuk mencegat keadaan agar tidak semakin canggung.
“Rel, coba kamu lihat mereka yang begitu ceriah menikmati anugerah tuhan” kata Kiki, membelah keheningan yang dari tadi membisu.
“Ya, lalu bagaimana dengan kita apakah akan seperti mereka hingga masa nanti” jawab Farel sambil menatap dalam-dalam para santri didepan halaman pondok.
“Rel, kalau aku tak usah di ragukan lagi. Justru aku selalu menginginkan kau selalu bahagia”
“jangan bilang seperti itu, semoga kita akan selalu berada dalam kebahagiaan” sahut Farel. Sebenarnya jawaban itu sedikit membuat Farel bingung dan tidak mengerti apa maksud semua perkataan itu. Hati Farel sedikit tersinggung dengan perkataan Kiki, didalam hati kecilnya Farel bertanya-tanya apakah Kiki sengaja membuat ia tersinggung atau tidak, itu membuat Fafel menyimpan beribu-ribu pertanyaan kepada Kiki.
Dibenak farel terbesit tentang kedudukan dirinya di pesantren yang sekrang ia duduki, bahwa ia dan Kiki adalah pengganti abahnya dan pewaris sah untuk meneruskan pesantern yang tepat berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat kelak. Tentu saja ia tak ingin memberikan contoh teladan yang bukan-bukan kepada santri yang bermukim di pesantren abahnya yang sudah mencapai usia setengah abad. Namun disisi lain ia tidak  mungkin melupakan Zulfa putri dari kia Hasan dan nyi wardah yang juga pengasuh pondok pesantern di desa sebelah, yang mungkin bila dibandingkan kecantikan dan ke sholehannya tidak tertandingi oleh sekian banyak santriwati di pesantren abahnya sendiri.
“Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi alladi kod wafaqa – lilielmi Khoira Kholkihi walittuqa,” barusaja ia membaca satu bait nadhaman yang sudah lama tak dibaca namun bayangan sosok zulfa selalu menghantuinya, seakan-akan ia sudah menempel permanen di dalam hati Farel.
“Ya allah… mengapa semua jadi begini, aku harus bagaimana dan apa yang harus aku lakukan jika terus-terusan seperti sedangkan aku menegemban amanat abah untuk meneruskan pesantren ini” gumam Farel dengan nada lesuh.
Malam yang menelan senja kini telah sempurna dengan hiasan bintang dan rembulan di tengah kerumunan meteor. Tiada teman yanag lebih menyenangkan bagi seorang Farel selain buku, dengan buku harian yang tak begitu tebal farel senantiasa merangkai berbagai macam kata menjadi segumpal kalimat tentang perjalanan hidupnya yang penuh dengan lika-liku, dan disisi lain ia harus pintar-pintar membagi waktu dan memperbanyak belajar tentang ilmu agama untuk diajarkan kepada santrinya.
 awan yang menggelantung di atap langit terurai sepoi angin membuat fikiran farel jauh ke dalam stasiun beta yang berisi tentang berbagai kenangan yang pernah ia lewati. Dengan mata yang tetap berkaca-kaca tiba-tiba ia teringat kembali kepada seorang insan yang amat berarti baginya. Ya, dia seorang gadis yang sangat lugu dan berparas melati dengan bulu mata yang sangat halus terpajang indah di wajah moleknya. Namun hal itu hanya sekedar ingatan saja, ia sadar bahwa ia tidak mungkin bertemu apa lagi berpegangan tangan layaknya insan diluar sana yang sudah akrab dengan dunia luar yang serba bebas.
 Meski demikian, bidadari yang ia dambakan sudah menjadi tunangannya, namun hal itu tetap menjadi beban yang teramat berat bagi farel, bagaimana tidak karena ia tahu wanita yang sekarang berada di genggamannya juga ditaksir kakaknya sendiri, kiki.
Hari demi hari telah berlalu tak terasa ikatan tunangan bersama Zulfa sudah genap empat bulan. Di bawah sinar rembulan yang menggelantung di atap langit perlahan menggeser ke arah barat sembari beriringnan dengan planet dan taburan bintang yang menghias malam. Malam sunyi terasa hambar dengan suara gerimis serangga yang terlelap pulas di balik dedaunan mengajak bercumbu dengan sunyi sambil lalu menikmati dinginnya embun yang menusuk tulang. Taburan lampu begitu indah menghias bola mata dari atas gedung pesantren yang tepat berada di kaki bukit, berkedap-kedip menyulap gelap gulita menjadi sebuah pertunjukan di bawah bulan yang kian bergeser dari tempat semedinya.
Dinginnya malam semakin naik suhu, dengan  buku harian yang tersampul biru toska Farel masih bersimpuh di ruas tembok pesantren yang sama. Mencoba membelah dimensi fikirannya yang akhir-akhir ini menghantui setiap saat. Masih dalam lamunan yang sama tentang seorang gadis yang teramat berharga baginya, namun dalam satu sisi ia adalah anugerah terindah tuhan yang hadir dalam hidupnya meski selalu membuat fikiranyya kalang kabut. Perasaan yang gaduh semakin bergejolak bagaimana mungkin seseorang yang akan menjadi pelengkap hidupnya juga di taksir kakaknya sendiri.
“ya Allah, kenapa hati  hamba menjadi begini, tenangkanlah hati hambamu ini dan tunjukkanlah jalan hidayah mu selalu” desah farel. Dalam lamunan Farel masih saja tentang seorang Zulfa dan Kiki kakaknya sendiri yang selalu meloncat-loncat dibenaknya.
Sebuah pertanyaan menghampiri Farel, ia tak habisfikir mengapa Kiki begitu saja melepas Zulfah untuknya, apa karena ia adalah adiknya hingga Kiki merelakan Zulfa untuk menjadi pelengkap lembaran baru kehidupannya. Hal itu semakin saja membuat Farel merasa terbebani rasa bingung tentang semua itu.
Sekarang farel sudah genap berusia dua puluh satu tahun, harinya yang panjang telah berlalu dengan tetesan tinta di buku hariannya.


Bersambung!

Komentar