Taburan mas, sebuah prakata yang
sangat elok untuk sebutan padi yang telah menguning terjajar rapi dan seraya
ikut sepoi angin di pagi buta. Kicauan burung begitu melengking mendobrak
keheningan, menari-nari di bawah atap langit biru menemani langkah seorang
nenek renta yang tetap tegar menjajakan gorengannya. Di luar pagar sana knalpot
motor berderu mengurai kabut mengantar para pedagang keladang nafkah dikeramaian masyarakat. Sorak anak-anak SD bercampur tawa dan bahagia
mengayuh sepeda ontelnya dengan baground remang-remang sinar matahari di ufuk
timur bak pertujukan wayang kulit dari ujung barat.
Sebelum sinar matahari mengecup kening
bumi dan menyeruput butiran embun dipucuk-pucuk rerumputan, santri-santri di
balik tembok yang mencakar langit telah berkerumun mengerjakan berbagai agenda
pesantren. Tiada ubuhnya bagaikan debur ombak laut yang setiap waktu terus
mengguyur pantai dan tebing. Begitulah suasana para santri dibalik penjara
suci.
Pemandangan yang tak asing lagi
bagi santri yang bermukim dengan wahana pengajian kitab kuning, hafalan, dan
bersekolah begitu terasa nikmat mereka geluti sepanjang harinya. Seragam putih
dan sarung dengan kopiah yang melingkar dikepala adalah hal wajib yang harus di
pakai oleh sekian banyak santri, dengan beralas kaki sandal jepit atau bakiak,
mereka hinggap kesana kemari menggendong kitab-kitab karya imam ghazali sambil
lalu menghafal nadhaman imriti, al-fiah dan lain sebagainya.
Di sore hari, entah saat selesai
sholat ashar atau setelah membimbing para santri di kelas acap kali farel menghabiskan
waktu luangnya untuk memandang pemandangan yang menghampar luas disisi gedung
pesantren. Panorama matahari menjadi pemandangan terindah dari atap gedung
pesantern dengan kombinasi awan kuning agak kemerahan seraya menutup matahari
yang telah menemani bumi. Sementara dibawah
sana santri-santri sudah melebur dengan bola kaki berlarian mengejar bola untuk
di masukkan ke gawang lawan.
“Rel, lagi ngapain disini
sendirian” tanya Kiki dari ujung tangga sebelah utara.
“enggak kok cuman memandang
pemandangan saja” ucap Farel sambil menoleh kepada Kiki.
Keadaan nampak monoton beberapa
saat, kedua insan yang berada di atas gedung masih meraba-raba sepatah kata
untuk diperbincangkan untuk mencegat keadaan agar tidak semakin canggung.
“Rel, coba kamu lihat mereka yang
begitu ceriah menikmati anugerah tuhan” kata Kiki, membelah keheningan yang
dari tadi membisu.
“Ya, lalu bagaimana dengan kita
apakah akan seperti mereka hingga masa nanti” jawab Farel sambil menatap
dalam-dalam para santri didepan halaman pondok.
“Rel, kalau aku tak usah di ragukan
lagi. Justru aku selalu menginginkan kau selalu bahagia”
“jangan bilang seperti itu, semoga
kita akan selalu berada dalam kebahagiaan” sahut Farel. Sebenarnya jawaban itu
sedikit membuat Farel bingung dan tidak mengerti apa maksud semua perkataan
itu. Hati Farel sedikit tersinggung dengan perkataan Kiki, didalam hati kecilnya
Farel bertanya-tanya apakah Kiki sengaja membuat ia tersinggung atau tidak, itu
membuat Fafel menyimpan beribu-ribu pertanyaan kepada Kiki.
Dibenak farel terbesit tentang
kedudukan dirinya di pesantren yang sekrang ia duduki, bahwa ia dan Kiki adalah
pengganti abahnya dan pewaris sah untuk meneruskan pesantern yang tepat berada
di tengah-tengah lingkungan masyarakat kelak. Tentu saja ia tak ingin
memberikan contoh teladan yang bukan-bukan kepada santri yang bermukim di
pesantren abahnya yang sudah mencapai usia setengah abad. Namun disisi lain ia
tidak mungkin melupakan Zulfa putri dari
kia Hasan dan nyi wardah yang juga pengasuh pondok pesantern di desa sebelah,
yang mungkin bila dibandingkan kecantikan dan ke sholehannya tidak tertandingi
oleh sekian banyak santriwati di pesantren abahnya sendiri.
“Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi
alladi kod wafaqa – lilielmi Khoira Kholkihi walittuqa,” barusaja ia membaca
satu bait nadhaman yang sudah lama tak dibaca namun bayangan sosok zulfa selalu
menghantuinya, seakan-akan ia sudah menempel permanen di dalam hati Farel.
“Ya allah… mengapa semua jadi
begini, aku harus bagaimana dan apa yang harus aku lakukan jika terus-terusan
seperti sedangkan aku menegemban amanat abah untuk meneruskan pesantren ini”
gumam Farel dengan nada lesuh.
Malam yang menelan senja kini telah
sempurna dengan hiasan bintang dan rembulan di tengah kerumunan meteor. Tiada
teman yanag lebih menyenangkan bagi seorang Farel selain buku, dengan buku
harian yang tak begitu tebal farel senantiasa merangkai berbagai macam kata
menjadi segumpal kalimat tentang perjalanan hidupnya yang penuh dengan
lika-liku, dan disisi lain ia harus pintar-pintar membagi waktu dan memperbanyak
belajar tentang ilmu agama untuk diajarkan kepada santrinya.
awan yang menggelantung di atap langit terurai
sepoi angin membuat fikiran farel jauh ke dalam stasiun beta yang berisi
tentang berbagai kenangan yang pernah ia lewati. Dengan mata yang tetap
berkaca-kaca tiba-tiba ia teringat kembali kepada seorang insan yang amat
berarti baginya. Ya, dia seorang gadis yang sangat lugu dan berparas melati
dengan bulu mata yang sangat halus terpajang indah di wajah moleknya. Namun hal
itu hanya sekedar ingatan saja, ia sadar bahwa ia tidak mungkin bertemu apa
lagi berpegangan tangan layaknya insan diluar sana yang sudah akrab dengan
dunia luar yang serba bebas.
Meski demikian, bidadari yang ia dambakan
sudah menjadi tunangannya, namun hal itu tetap menjadi beban yang teramat berat
bagi farel, bagaimana tidak karena ia tahu wanita yang sekarang berada di
genggamannya juga ditaksir kakaknya sendiri, kiki.
Hari demi hari telah berlalu tak
terasa ikatan tunangan bersama Zulfa sudah genap empat bulan. Di bawah sinar
rembulan yang menggelantung di atap langit perlahan menggeser ke arah barat
sembari beriringnan dengan planet dan taburan bintang yang menghias malam.
Malam sunyi terasa hambar dengan suara gerimis serangga yang terlelap pulas di
balik dedaunan mengajak bercumbu dengan sunyi sambil lalu menikmati dinginnya
embun yang menusuk tulang. Taburan lampu begitu indah menghias bola mata dari
atas gedung pesantren yang tepat berada di kaki bukit, berkedap-kedip menyulap
gelap gulita menjadi sebuah pertunjukan di bawah bulan yang kian bergeser dari
tempat semedinya.
Dinginnya malam semakin naik suhu,
dengan buku harian yang tersampul biru
toska Farel masih bersimpuh di ruas tembok pesantren yang sama. Mencoba
membelah dimensi fikirannya yang akhir-akhir ini menghantui setiap saat. Masih
dalam lamunan yang sama tentang seorang gadis yang teramat berharga baginya,
namun dalam satu sisi ia adalah anugerah terindah tuhan yang hadir dalam
hidupnya meski selalu membuat fikiranyya kalang kabut. Perasaan yang gaduh semakin
bergejolak bagaimana mungkin seseorang yang akan menjadi pelengkap hidupnya
juga di taksir kakaknya sendiri.
“ya Allah, kenapa hati hamba menjadi begini, tenangkanlah hati
hambamu ini dan tunjukkanlah jalan hidayah mu selalu” desah farel. Dalam
lamunan Farel masih saja tentang seorang Zulfa dan Kiki kakaknya sendiri yang
selalu meloncat-loncat dibenaknya.
Sebuah pertanyaan menghampiri
Farel, ia tak habisfikir mengapa Kiki begitu saja melepas Zulfah untuknya, apa
karena ia adalah adiknya hingga Kiki merelakan Zulfa untuk menjadi pelengkap lembaran
baru kehidupannya. Hal itu semakin saja membuat Farel merasa terbebani rasa
bingung tentang semua itu.
Sekarang farel sudah genap berusia
dua puluh satu tahun, harinya yang panjang telah berlalu dengan tetesan tinta
di buku hariannya.
Bersambung!
Bersambung!

Komentar
Posting Komentar